Skip to main content

Momentum Pragmatis Menuju Kabinet Pasca Pesta Demokrasi

Sumber : NET

Pemungutan suara telah usai, tahapan Pemilu tahun 2019 sedang dalam proses pemuktahiran data suara dan menunggu hasil dari KPU untuk menyatakan secara resmi siapa yang akan menjadi orang nomor satu di Indonesia dalam kurun waktu lima tahun ke depan.

Tentunya momentum ini akan dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh setiap partai dari masing-masing kubu apabila jagoan yang diusung menjadi pemenang. Mulai dari kursi menteri, jabatan-jabatan strategis hingga posisi-posisi pelengkap kabinet sekalipun tidak akan luput dari negosiasi dan lobi-lobi politis agar bisa diambil alih.

Hal tersebut tentu merupakan hal yang wajar, mengingat selama berbulan-bulan panjang partai pengusung telah berjuang mati-matian agar jagoannya menang. Maka, sesuatu yang lumrah dalam politik apabila partai yang tergabung dalam tim kampanye ini meminta imbalan dan memanfaatkannya menjadi suatu momentum pragmatis.

Hanya saja, yang berkemungkinan memanfaatkan momentum Pragmatis ini bukan hanya partai internal koalisi dari calon pemenang. Partai dari kubu lawan juga mempunyai peluang dan berkemungkinan merapat ke barisan pemenang, tapi hal itu tidak la mudah, karena tentu banyak pertimbangan dan keluhan dari partai pengusung dari calon yang menang.

Mengapa Partai Di Luar Koalisi Merapat Ke Barisan Pemenang ??

Jawabannya sederhana, dalam berpolitik tidak ada yang abadi dan statis. Skema pergerakan politik bersifat dinamis dan berubah-ubah sesuai kebutuhan kepentingan dan tujuan internal partai. Untuk menjaga eksistensi partai yang memerlukan posisi publik dan anggaran yang tidak kecil membuat partai yang kalah dalam pilpres terpaksa harus merapat ke barisan pemenang dengan harapan ada kursi-kursi kosong yang bisa dimanfaatkan.

Tidak hanya masalah eksistensi partai, namun ada pertimbangan lain seperti pasar pilpres pada pemilu 2024 yang terbuka lebar. Pilpres 2024 nanti tentu berkemungkinan besar akan diisi oleh wajah baru tanpa ada sosok pemain lama apabila pilpres 2019 ini dimenangkan oleh petahana, namun akan berbeda skemanya apabila dimenangkan oleh pihak penantang. Hal inilah yang akan menjadi target utama dimana perjalanan panjang tersebut akan ditentukan oleh momentum pasca pemilu 2019 saat ini.

Partai Yang Bisa Merapat Ke Barisan Pemenang ??

Tentu saja yang berpeluang besar adalah Partai yang berhasil masuk ke Parlemen, karena pihak pemenang yang mengisi kursi Presiden akan memanfaatkan hal tersebut agar kebijakan yang ia rencanakan bisa diproses dan disepakati dengan lancar oleh pihak Parlemen (DPR). Namun, ini juga bisa berdampak buruk, apabila posisi parlemen didominasi oleh banyak pihak pendukung pemerintah, hal tersebut akan mengurangi nilai kritik dan penyeimbang kebijakan pemerintah.

Adakah Partai Yang Enggan Merapat Ke Barisan Pemenang ??

Pasti ada, mengapa ??, karena banyak faktor seperti perbedaan ideologi dan track record hubungan emosional dengan salah satu pihak yang terlampau buruk sehingga menghalangi peluang untuk masuk ke koalisi pemenang.

Comments

Popular posts from this blog

Rayuan Seorang Perindu

Bertemu dengan mu menjadikan aku seorang perindu, Realitas waktu tidak lagi berlaku di sekitar kita, Detik-detik, menit-menit, jam-jam, bergulir tak beraturan, Bersama mu adalah keajaiban yang membuat ruang dan waktu menjadi kosong, Anehnya, waktu seolah-olah berhenti, tapi entah mengapa berlalu begitu cepat, Anehnya, kita berada di ruang ramai, tapi entah mengapa terasa hanya berdua, Dua jam berlalu kita duduk bersama, bagi ku terasa seperti dua menit menatap matamu, Dari sekian banyak suara yang berisik, hanya buah bibirmu yang ingin ku dengar, Dari puluhan manusia yang hadir, hanya tangan kecilmu yang berusaha ku genggam, Ketika temu kita telah usai, pisah kita akhirnya dimulai, Ruang dan waktu kembali berulah semena-mena, Waktu terasa lambat berlalu, ruang terasa kosong dan aku rindu padamu.

Nusantara Bersatu Untuk Indonesia

Nusantara sebelum Indonesia, Terbagi-bagi jadi beberapa, Nusantara sebelum Indonesia, Ada banyak tidak satu, Datang asing dengan ledakan, Pribumi lari teriak-teriak, Datang asing membawa peti, Jarah habis isi bumi, Kekerasan dan tipu daya, Siksa dan bodohi Nusantara, Alih-alih dan adu domba, Jurus jitu lemahkan juang, Pemuda datang ambil alih, Suarakan satu, suarakan persatuan, Pemimpin datang ayomi bangsa, Gerakan lagi, gerakan kemerdekaan, Beda-beda tetap satu, Semakin beda semakin terpadu, Dari satu jadi seribu, Kuat melawan, tegar bertahan, Indonesia setelah Nusantara, Tak terbagi, tak bisa dibeli, Indonesia setelah Nusantara, Ada banyak namun satu. Pencoret Kertas, Sepri Sumartono SUMBER FOTO : NET

Berikut 4 Jenis Cemburu, Kamu Yang Mana ??

Selamat datang kembali pembaca setia Pencoret Kertas. Kali ini Pencoret Kertas akan membahas tentang sesuatu yang istimewa dan unik, namun tenang saja, kita tidak akan membahas masalah Miyabi yang datang ke Bali, karena meskipun unik dan menarik, hal tersebut tidak lah penting sama sekali. Hal yang akan kita bahas kali ini adalah sesuatu yang pasti pernah terjadi dan dialami oleh setiap umat manusia jaman now, kecuali yang semasa hidup nya tidak pernah pacaran alias Jomblo Mutlak .  Cemburu , yahh, semua orang yang pernah pacaran pasti setidaknya mengalami hal ini satu kali selama menjalani hubungan dengan pasangannya, bahkan mungkin ada yang berkali-kali. Cemburu identik dengan perasaan dongkol yang memberatkan nafas dan menusuk-nusuk relung hati yang paling dalam. Menurut salah satu ahli, L Seno, S.IC (Sarjana Ilmu Cinta) mendefinisikan Cemburu sebagai suatu gejolak setan (dengki, marah, dan ingin balas dendam) yang timbul dari seseorang ketika mengetahui pasangan nya b...