Skip to main content

Memandang Wartawan Sebagai Profesi Yang Berkelas

Sumber Foto : NET

Bagi wartawan yang mecintai pekerjaannya pasti menganggap kegiatan jurnalistik tersebut sebagai suatu profesi, bukan hanya sekedar cara untuk mencari uang atau keuntungan saja. Mengapa anggapan istilah profesi dan “hanya sekedar kegiatan mencari uang saja” itu berbeda ?? karena kalau hanya sekedar melaksanakan sebuah kegiatan mencari uang saja, siapa pun bisa melakukannya dengan ada atau tidaknya kompetensi yang dimiliki. Berbeda dengan sebuah profesi, yang dimana setiap orang yang menekuninya dituntut agar mempunyai keterampilan, wawasan dan kompetensi tertentu. Tentunya setiap profesi membutuhkan kompetensi yang berbeda-beda, contoh saja seperti dokter yang harus mempunyai beberapa kompetensi medis agar memberikan pelayanan atau jasa kuratif dan rehabilitatif yang baik. Bayangkan jika seorang dokter ternyata tidak memiliki kompetensi medis yang memumpuni dibiarkan untuk mengobati pasien, apa yang akan terjadi ?? bisa saja nyawa pasien menjadi korban, maka dari itu untuk profesi dokter perlu adanya uji kompetensi agar keselamatan dan kesehatan pasien lebih terjamin.

Tidak setiap profesi harus ada proses uji kompetensinya terlebih dahulu agar orang yang menekuninya bisa disebut sebagai seorang profesional. Hanya saja ada beberapa profesi yang memang harus memiliki uji kompetensi karena dinilai memiliki resiko yang fatal bagi indivdiu baik diri sendiri atau orang lain, kelompok, bahkan suatu bangsa apabila terjadi kesalahan dalam pelaksanaannya. Pers (Kantor Berita) yang menjadi wadah profesi jurnalistik bernaung untuk melakukan kegiatan jurnalistik ini adalah salah satu dari empat pilar demokrasi. Dari penjelasan tersebut sudah dapat dipastikan bahwa pers yang menjadi tempat bernaungnya profesi wartawan ini merupakan suatu hal yang sangat berpengaruh bagi sebuah tatananan berbangsa dan bernegara dalam memberikan keterbukaan informasi bagi masyarakat luas. Informasi yang diberikan tentu sangat beragam topik tergantung dengan peristiwa dan isu yang berkembang. Wartawan mempunyai kegiatan dalam keseharian untuk melakukan pencarian, pengumpulan, pengelolaan dan penyebaran informasi yang kemudian disebut sebagai kegiatan jurnalistik. 

Kesalahan dalam pemberian informasi tentu akan berdampak fatal, karena informasi bisa menjadi stimuli yang kemudian akan memicu terbentuknya sebuah persepsi atau paradigma yang akan berakibat luas dalam jangka panjang dan dapat memicu terjadinya sebuah tindakan secara instan dalam jangka pendek, contoh fatalnya bisa kita bayangkan sendiri. Maka dari itu, program Uji Kompetensi Wartawan (UKW) merupakan suatu hal yang tepat dan memang sudah sewajarnya dilakukan dalam rangka pengakuan dan pembuktian bahwa Pers adalah suatu lembaga yang sangat berpengaruh pada tatanan hidup berdemokrasi dan Wartawan adalah sebuah profesi yang berkelas. Namun sangat disayangkan ada beberapa wartawan yang menolak untuk mengikuti program UKW ini, padahal hal tersebut adalah sebuah pembuktian bahwa profesi yang sedang ia jalankan itu adalah profesi yang berkelas di mana tidak setiap orang bisa menekuninya.

Kira-kira mengapa ?? apa yang memicu sebagian wartawan menolak UKW ??, tentu alasan tersebut tidak bisa disimpulkan secara sepihak dan butuh diskusi panjang, karena setiap orang mempunyai pemikiran yang berbeda dan setiap wartawan mempunyai tujuan berjurnalistik yang berbeda pula.

Comments

Popular posts from this blog

Rayuan Seorang Perindu

Bertemu dengan mu menjadikan aku seorang perindu, Realitas waktu tidak lagi berlaku di sekitar kita, Detik-detik, menit-menit, jam-jam, bergulir tak beraturan, Bersama mu adalah keajaiban yang membuat ruang dan waktu menjadi kosong, Anehnya, waktu seolah-olah berhenti, tapi entah mengapa berlalu begitu cepat, Anehnya, kita berada di ruang ramai, tapi entah mengapa terasa hanya berdua, Dua jam berlalu kita duduk bersama, bagi ku terasa seperti dua menit menatap matamu, Dari sekian banyak suara yang berisik, hanya buah bibirmu yang ingin ku dengar, Dari puluhan manusia yang hadir, hanya tangan kecilmu yang berusaha ku genggam, Ketika temu kita telah usai, pisah kita akhirnya dimulai, Ruang dan waktu kembali berulah semena-mena, Waktu terasa lambat berlalu, ruang terasa kosong dan aku rindu padamu.

Nusantara Bersatu Untuk Indonesia

Nusantara sebelum Indonesia, Terbagi-bagi jadi beberapa, Nusantara sebelum Indonesia, Ada banyak tidak satu, Datang asing dengan ledakan, Pribumi lari teriak-teriak, Datang asing membawa peti, Jarah habis isi bumi, Kekerasan dan tipu daya, Siksa dan bodohi Nusantara, Alih-alih dan adu domba, Jurus jitu lemahkan juang, Pemuda datang ambil alih, Suarakan satu, suarakan persatuan, Pemimpin datang ayomi bangsa, Gerakan lagi, gerakan kemerdekaan, Beda-beda tetap satu, Semakin beda semakin terpadu, Dari satu jadi seribu, Kuat melawan, tegar bertahan, Indonesia setelah Nusantara, Tak terbagi, tak bisa dibeli, Indonesia setelah Nusantara, Ada banyak namun satu. Pencoret Kertas, Sepri Sumartono SUMBER FOTO : NET

Berikut 4 Jenis Cemburu, Kamu Yang Mana ??

Selamat datang kembali pembaca setia Pencoret Kertas. Kali ini Pencoret Kertas akan membahas tentang sesuatu yang istimewa dan unik, namun tenang saja, kita tidak akan membahas masalah Miyabi yang datang ke Bali, karena meskipun unik dan menarik, hal tersebut tidak lah penting sama sekali. Hal yang akan kita bahas kali ini adalah sesuatu yang pasti pernah terjadi dan dialami oleh setiap umat manusia jaman now, kecuali yang semasa hidup nya tidak pernah pacaran alias Jomblo Mutlak .  Cemburu , yahh, semua orang yang pernah pacaran pasti setidaknya mengalami hal ini satu kali selama menjalani hubungan dengan pasangannya, bahkan mungkin ada yang berkali-kali. Cemburu identik dengan perasaan dongkol yang memberatkan nafas dan menusuk-nusuk relung hati yang paling dalam. Menurut salah satu ahli, L Seno, S.IC (Sarjana Ilmu Cinta) mendefinisikan Cemburu sebagai suatu gejolak setan (dengki, marah, dan ingin balas dendam) yang timbul dari seseorang ketika mengetahui pasangan nya b...