Skip to main content

Memandang Sisi Negatif Perayaan Tahun Baru, Benarkah ??

Ilustrasi/NET

Perayaan Tahun Baru memang sangat seru. Hanya pada saat momen-momen seperti tahun baru kita bisa melakukan pembakaran masal dan tidak dikenakan pidana. Yah, karena yang dibakar adalah makanan sepeti ayam, jagung dan ikan, bukan mantan, kalau yang dibakar mantan tentu saja akan dipidana, sebab meskipun tidak punya hati, mantan juga dikategorikan sebagai manusia/orang yang dilindungi oleh hukum.

Fenomena perayaan tahun baru tentu mempunyai sisi positif dan negatif. Untuk kali ini Pencoret Kertas akan mencoba menggambarkan sisi negatif pada perayaan tahun baru yang beberapa tahun belakangan ini Author Pencoret Kertas merasa malas untuk merayakannya. Pencoret Kertas akan jelaskan secara subjektif alasan mengapa enggan merayakan malam tahun baru ini.

Dulu Author Pencoret Kertas saat berada di usia remaja antara umur 15-18 tahun merupakan salah satu orang yang paling antusias saat menyambut tahun baru. Segala persiapan tahun baru bahkan sudah direncanakan tiga hari sebelum malam puncak. Mulai dari mengumpulkan teman-teman, mempersiapkan menu makanan, menyusun permainan/agenda hingga sampai ke mencari gebetan dadakan.

Yah, gebetan dadakan, mengapa ??, karena kualitas diri remaja pada saat tahun baru dilihat dari apakah ia membawa gebetan atau tidak saat perayaan malam puncak, dan kala itu (2012-2013) dengan merogoh kocek orang tua sebesar 300 ribu, Author Pencoret Kertas berhasil membawa dua gebetan dadakan sekaligus. Yah, uang orang tua, rata-rata remaja saat ini bergaya menggunakan uang orang tua dan seakan sudah punya penghasilan sendiri.

Sisi negatif yang Author Pencoret Kertas lihat saat ini di usia 23 tahun, malam tahun baru merupakan ajang membuang-buang uang dan waktu berjamaah dengan percuma. Entah mengapa, mungkin ini faktor usia, di mana umur yang hendak beranjak ke angka 24 ini mengatakan kepada pikiran agar tidak lagi menghabiskan waktu untuk bersenang-senang saja, melainkan harus memanfaatkan waktu untuk menjadi peribadi yang lebih berguna.

Tahun baru memang cukup banyak membuang waktu. Waktu yang seharusnya bisa kita gunakan untuk beraktivitas produktif lalu beristirahat harus direlakan untuk melakukan pembakaran masal rempah-rempah dan jagung yang kemudian diikuti dengan aktivitas hura-hura dan cengengesan tidak jelas. Bukan hanya itu, bahkan ada yang digunakan untuk pesta mabuk-mabukan dan aktivitas pergaulan bebas lainnya. Nih, mungkin saja momen tahun baru adalah salah satu pemicu besar naiknya tingkat pergaulan bebas secara instan, terutama untuk dilingkungan kota dengan gaya hidup bebas dan hedonisme.

Mengapa sih harus demikian ?? Mengapa momen tahun baru ini tidak digunakan saja untuk berdoa dan bersyukur, lalu merenungkan kembali pencapaian yang belum bisa diraih agar mampu dimaksimalkan di tahun yang akan datang. Paling tidak yang dilakukan bukanlah cengengesan berjamaah, melainkan bersyukur berjamaah, berdoa bersama, memuji kebesaran Sang Maha Kuasa dan tidak ada salahnya ditambah dengan agenda makan-makan setelah itu.

Kalau untuk saat ini, Author Pencoret Kertas lebih memilih meluangkan waktu tahun baru untuk terus berkarya dan istirahat. Kalau ingin kumpul, yah paling kumpul bersama keluarga dan sahabat-sahabat yang jarang bertatap muka, ataupun menghabiskan waktu luang berkualitas bersama orang-orang terdekat.

Ingat, tahun baru belum tentu memberikan mu sebuah pencapaian atau target hidup yang baru, karena bisa saja ada harapan pada tahun sebelumnya yang masih tertinggal dan belum tercapai. Bagi seseorang yang belum berhasil mencapai target hidupnya, tahun baru hanya sebuah cambuk tajam yang sungguh sangat menyakitkan, dan seharusnya cambukan tersebut mampu membuat kita mengoreksi diri agar hal yang sama tidak kembali terulang, bukan malah sebaliknya, tertawa dan berhura-hura.

If you are a visionary, you must be keep this in mind.

Comments

Popular posts from this blog

Rayuan Seorang Perindu

Bertemu dengan mu menjadikan aku seorang perindu, Realitas waktu tidak lagi berlaku di sekitar kita, Detik-detik, menit-menit, jam-jam, bergulir tak beraturan, Bersama mu adalah keajaiban yang membuat ruang dan waktu menjadi kosong, Anehnya, waktu seolah-olah berhenti, tapi entah mengapa berlalu begitu cepat, Anehnya, kita berada di ruang ramai, tapi entah mengapa terasa hanya berdua, Dua jam berlalu kita duduk bersama, bagi ku terasa seperti dua menit menatap matamu, Dari sekian banyak suara yang berisik, hanya buah bibirmu yang ingin ku dengar, Dari puluhan manusia yang hadir, hanya tangan kecilmu yang berusaha ku genggam, Ketika temu kita telah usai, pisah kita akhirnya dimulai, Ruang dan waktu kembali berulah semena-mena, Waktu terasa lambat berlalu, ruang terasa kosong dan aku rindu padamu.

Aku dan Dunia

Sumber foto : NET Aku membenci dunia, Seperti aku membenci diriku sendiri, Aku merayu dunia untuk merayu ku, Dunia merayu ku untuk mengejarnya, Aku mengejar dunia agar ia menghampiri ku, Ia menghampiri ku agar aku tergila-gila padanya, Dunia tak ingin aku berhenti mengejar,  Padahal sesungguhnya aku yang tak ingin, Mengorbankan kaki dan tangan demi emas, Mengorbankan mata dan telinga demi kekasih, Mengorbankan hati dan nurani demi kasta, Jika aku berhenti dunia ini yang akan mengejar, Jika aku mengejar maka dunia lah yang akan berlari, Sesungguhnya, Aku mencintai dunia, Dengan cara menyakiti diriku sendiri.

Si Peri Berpipi Bulat

Ilustrasi/NET Tak sengaja bertemu Peri, Bersayap cahaya penuh rahasia, Elok ku dekati, ucapkan sapa, Tanpa disadari tubuhku terbata-bata, Ku cermati lagi indah wajahnya, Berpipi bulat merah merekah, Tampak tak tinggi Si Peri ini, Namun ia lucu hingga ku terpaku, Beribu senyum terlempar oleh ku, Tanpa ku sadari telah ada yang hilang, Ku letakkan tangan diatas dada, Barulah terasa kalau hati ini telah ia sita, Si peri kabur tanpa meninggalkan nama, Tapi entah mengapa diri ini hanya diam saja, Ingin mengejar namun ragu, Mungkin ini masalah waktu, Tetap ku ingat wajah Si Peri, Begitu juga senyum serta pipinya, Kan ku dapat ia ku cari, Kan ku balas ku curi hatinya.