Skip to main content

Puisi Terindah

Sumber foto : NET

Engkau,
Adalah kata-kataku,
Yang selalu terucap di setiap hembus nafasku,

Engkau,
Adalah bait-baitku,
Yang terangkai indah di setiap detikku,

Engkau,
Adalah syair-syairku,
Yang selalu menggoda ku untuk merindu,

Engkau,
Adalah puisi-puisiku,
Yang selalu menjadi warna di setiap detakan jantungku,

Engkau,
Mengukir kalimat bahagia di secarik kertas kosong,
Yang selama ini kotor tertutupi debu,

Memang,
Tidak ada kata sesering namamu,
Tidak ada bait sekaya hatimu,
Tidak ada syair sehangat hadirmu,
Tidak ada puisi seindah dirimu.

Comments

  1. Wahai engkau si pencoret kertas...
    Apa geranganmu...
    Saya hadir untuk mendengar kalimat kalimatmu...
    Kata katamu terdengar lantang dan begitu keras..
    Semoga hatimu sedang tak bisul, wahai engkau si pencoret kertas...
    Secangkir kopi pahit yang telah ku suguhkan untukmu disini..

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Anjing-anjing Buta

Sumber Foto : Net Sering bertemu banyak anjing, Tapi uniknya, mereka semua buta. Meski buta, anjing-anjing ini beraktivitas seperti biasa, Menggonggong dan menjilat agar dapat makanan. Ada yang dipelihara oleh seorang majikan, Jinak, menjilat jika lapar, menggonggong ketika diperintahkan. Ada juga yang liar, tak dipelihara bukan karena tak jinak, Tapi badannya kotor dan berpenyakitan Tentunya tak dapat diandalkan. Hewan-hewan ini buta, Mereka tak melihat apa-apa kecuali tulang dan majikannya, Duduk tampak bodoh sembari menunggu diperintahkan. Mereka juga tak bisa melihat hewan-hewan lain yang kesulitan, Jika ada ayam mati kelaparan di depannya, mereka hanya mengendus, Jika ada sapi yang terjebak di lubang mereka hanya menggaruk-garuk leher. Memang, sesungguhnya mereka itu buta dan anjing.

Aku, Kau, Kita, Mereka, Kalian dan Binatang

Sumber foto : Net Wahai aku,  Kesusahan dan kerusakan diriku kau acuhkan, Padahal aku adalah kau. Wahai aku, Penuh harta tertanam dalam tubuhku, Namun kau kuras dan sia-siakan sendirian, Padahal aku adalah kau. Wahai aku, Mengapa tubuhmu bukan milikku, tapi mereka, Padahal aku adalah kau, kau adalah aku. Wahai aku,  Mengapa tubuh ini hanya dinikmati oleh kau, Bukan kita, bahkan mereka. Padahal aku dan kau adalah kita, bukan mereka juga kalian. Mengapa demikian wahai aku, Apa karena aku hanya sebagian kecil dari kita, Sehingga aku dan kau terpaut jauh perlakuan dan hajatnya. Padahal kau dan aku adalah kita,  Meski berbeda tetap satu. Wahai aku, Kau terlalu rakus, egois dan sadis. Kau makan tubuh ini sendirian, Kau juga biarkan mereka menjamahnya, Kau jual untuk kepuasan sendiri, Tanpa pernah memikirkan kita. Kata apa yang pantas ku tujukan padamu wahai aku, Bahkan binatang pun tak pernah menggerogoti tubuhnya sendiri, Memperkosa tubuhnya sendiri. Memikirkan kau wahai aku, ...

Nusantara Bersatu Untuk Indonesia

Nusantara sebelum Indonesia, Terbagi-bagi jadi beberapa, Nusantara sebelum Indonesia, Ada banyak tidak satu, Datang asing dengan ledakan, Pribumi lari teriak-teriak, Datang asing membawa peti, Jarah habis isi bumi, Kekerasan dan tipu daya, Siksa dan bodohi Nusantara, Alih-alih dan adu domba, Jurus jitu lemahkan juang, Pemuda datang ambil alih, Suarakan satu, suarakan persatuan, Pemimpin datang ayomi bangsa, Gerakan lagi, gerakan kemerdekaan, Beda-beda tetap satu, Semakin beda semakin terpadu, Dari satu jadi seribu, Kuat melawan, tegar bertahan, Indonesia setelah Nusantara, Tak terbagi, tak bisa dibeli, Indonesia setelah Nusantara, Ada banyak namun satu. Pencoret Kertas, Sepri Sumartono SUMBER FOTO : NET