Skip to main content

Aku, Kau, Kita, Mereka, Kalian dan Binatang

Sumber foto : Net


Wahai aku, 

Kesusahan dan kerusakan diriku kau acuhkan,

Padahal aku adalah kau.


Wahai aku,

Penuh harta tertanam dalam tubuhku,

Namun kau kuras dan sia-siakan sendirian,

Padahal aku adalah kau.


Wahai aku,

Mengapa tubuhmu bukan milikku, tapi mereka,

Padahal aku adalah kau, kau adalah aku.


Wahai aku, 

Mengapa tubuh ini hanya dinikmati oleh kau,

Bukan kita, bahkan mereka.

Padahal aku dan kau adalah kita, bukan mereka juga kalian.


Mengapa demikian wahai aku,

Apa karena aku hanya sebagian kecil dari kita,

Sehingga aku dan kau terpaut jauh perlakuan dan hajatnya.

Padahal kau dan aku adalah kita, 

Meski berbeda tetap satu.


Wahai aku,

Kau terlalu rakus, egois dan sadis.

Kau makan tubuh ini sendirian,

Kau juga biarkan mereka menjamahnya,

Kau jual untuk kepuasan sendiri,

Tanpa pernah memikirkan kita.


Kata apa yang pantas ku tujukan padamu wahai aku,

Bahkan binatang pun tak pernah menggerogoti tubuhnya sendiri,

Memperkosa tubuhnya sendiri.

Memikirkan kau wahai aku, membuat ku menilai binatang lebih manusiawi.


Penulis : Sepri Sumartono

Comments

Popular posts from this blog

Nusantara Bersatu Untuk Indonesia

Nusantara sebelum Indonesia, Terbagi-bagi jadi beberapa, Nusantara sebelum Indonesia, Ada banyak tidak satu, Datang asing dengan ledakan, Pribumi lari teriak-teriak, Datang asing membawa peti, Jarah habis isi bumi, Kekerasan dan tipu daya, Siksa dan bodohi Nusantara, Alih-alih dan adu domba, Jurus jitu lemahkan juang, Pemuda datang ambil alih, Suarakan satu, suarakan persatuan, Pemimpin datang ayomi bangsa, Gerakan lagi, gerakan kemerdekaan, Beda-beda tetap satu, Semakin beda semakin terpadu, Dari satu jadi seribu, Kuat melawan, tegar bertahan, Indonesia setelah Nusantara, Tak terbagi, tak bisa dibeli, Indonesia setelah Nusantara, Ada banyak namun satu. Pencoret Kertas, Sepri Sumartono SUMBER FOTO : NET

Berikut 4 Jenis Cemburu, Kamu Yang Mana ??

Selamat datang kembali pembaca setia Pencoret Kertas. Kali ini Pencoret Kertas akan membahas tentang sesuatu yang istimewa dan unik, namun tenang saja, kita tidak akan membahas masalah Miyabi yang datang ke Bali, karena meskipun unik dan menarik, hal tersebut tidak lah penting sama sekali. Hal yang akan kita bahas kali ini adalah sesuatu yang pasti pernah terjadi dan dialami oleh setiap umat manusia jaman now, kecuali yang semasa hidup nya tidak pernah pacaran alias Jomblo Mutlak .  Cemburu , yahh, semua orang yang pernah pacaran pasti setidaknya mengalami hal ini satu kali selama menjalani hubungan dengan pasangannya, bahkan mungkin ada yang berkali-kali. Cemburu identik dengan perasaan dongkol yang memberatkan nafas dan menusuk-nusuk relung hati yang paling dalam. Menurut salah satu ahli, L Seno, S.IC (Sarjana Ilmu Cinta) mendefinisikan Cemburu sebagai suatu gejolak setan (dengki, marah, dan ingin balas dendam) yang timbul dari seseorang ketika mengetahui pasangan nya b...

Harga Sebutir Nasi Di Negeri Yang Membasi

Demi sebutir nasi, Saudara saling tikam, Darah berlumuran, Tega putus hubungan, Demi sebutir nasi, Kawan bagai lawan, Harap tolong menolong, Malah hancur menghancurkan, Demi sebutir nasi, Rakyat mengemis, Menjerit tangis, Meski raja tak menggubris, Demi sebutir nasi, Kaum intelektual menjilat, Media bungkam, Bangsa terburai, Demi sebutir nasi, Harga diri hilang, Tamak bermunculan, Hilang kemanusiaan, Awalnya demi sebutir nasi, Kemudian jadi sesuap nasi, Lalu jadi sebakul nasi, Akhirnya tertumpuk nasi, Hanya gara-gara sebutir nasi, Negeri ini menjadi kian basi. Muntok, 19 November Pencoret Kertas