Skip to main content

Posts

Puisi Terindah

Sumber foto : NET Engkau, Adalah kata-kataku, Yang selalu terucap di setiap hembus nafasku, Engkau, Adalah bait-baitku, Yang terangkai indah di setiap detikku, Engkau, Adalah syair-syairku, Yang selalu menggoda ku untuk merindu, Engkau, Adalah puisi-puisiku, Yang selalu menjadi warna di setiap detakan jantungku, Engkau, Mengukir kalimat bahagia di secarik kertas kosong, Yang selama ini kotor tertutupi debu, Memang, Tidak ada kata sesering namamu, Tidak ada bait sekaya hatimu, Tidak ada syair sehangat hadirmu, Tidak ada puisi seindah dirimu.

Gerimis di Sore Itu

Sumber : NET Gerimis seringkali membawa kegelisahan, Datang bersama hujan memicu kegundahan, Mengguyur kembali luka yang pernah terasa, Dengan seketika mengunci tawa, Kali pertama dalam hidupku, Gerimis tak tampak kelabu, Kali ini ia datang melukis hariku, Menjadi warna merah muda dan biru, Dibawah dua pohon yang tak rimbun, Tampak matahari mulai tak benderang, Sayup-sayup mata mulai tertuntun, Terlelap dan terpikat rasa tenang, Bahkan dinginnya angin laut dibawah awan mendung, Sekejap hilang diterpa hangatnya detakan jantung, Betapa sungguh terasa beda terpukau kenyamanan, Kala menikmati gerimis di sore itu, Sayangnya rintik gerimis kini mulai mengusik, Dan petang pun mulai menghilang, Langit gelap mulai berbisik-bisik, Hingga waktu mengusir pulang.

Momentum Pragmatis Menuju Kabinet Pasca Pesta Demokrasi

Sumber : NET Pemungutan suara telah usai, tahapan Pemilu tahun 2019 sedang dalam proses pemuktahiran data suara dan menunggu hasil dari KPU untuk menyatakan secara resmi siapa yang akan menjadi orang nomor satu di Indonesia dalam kurun waktu lima tahun ke depan. Tentunya momentum ini akan dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh setiap partai dari masing-masing kubu apabila jagoan yang diusung menjadi pemenang. Mulai dari kursi menteri, jabatan-jabatan strategis hingga posisi-posisi pelengkap kabinet sekalipun tidak akan luput dari negosiasi dan lobi-lobi politis agar bisa diambil alih. Hal tersebut tentu merupakan hal yang wajar, mengingat selama berbulan-bulan panjang partai pengusung telah berjuang mati-matian agar jagoannya menang. Maka, sesuatu yang lumrah dalam politik apabila partai yang tergabung dalam tim kampanye ini meminta imbalan dan memanfaatkannya menjadi suatu momentum pragmatis. Hanya saja, yang berkemungkinan memanfaatkan momentum Pragmatis ini bukan hanya part...

Cinta Pertamaku

Sumber : Net Aku jatuh cinta, Pada suasana hangat, Berlumuran tawa ceria, Aku jatuh cinta, Pada elok santun kita, Ketika bersama menggenggam ilmu, Aku jatuh cinta, Pada jatuh bangun kita, Saat bersimbah darah bercucur keringat, Engkau jalanku, Menempuh tujuan, Menggapai angan, Engkau rumahku, Tempat mengasah akal, Merakit mental, Engkau bajuku, Citra diriku, Wujud dan rupaku, Engkau cinta pertamaku, Perisai biru kuning, Bertabur bintang-bintang.

Tangan Kecil Tak Berdaya

Sumber : NET Air mata ini terus menetes, Jatuh mengalir membentuk luka, Tak sanggup ku bendung, Pedih teramat perih mencabik-cabik, Tak pernah kering air mata ini, Ketika melihat dirimu kesulitan, Pasrah akan kehidupanmu, Berjuang untuk bahagiamu, Maaf, maafkan diri ini, Hanya punya tangan kecil, Yang tak berdaya menarik deritamu, Tak berdaya mengulurkan senyum, Hanya bisa melihat dan menangis, Berharap dan menunggu, Berjuang dengan caraku, Untuk kebahagiaanmu nanti, Bertahanlah ibu, Doakan aku di setiap sujudmu.

Kisah Gemerlap Tengah Malam

Sumber : Net Mendayu-dayu tutur katanya, Melenggak-lenggok tubuhnya, Ia buka seluas mungkin, Hasrat tubuh menggiurkan, Mahkota itu ia pajang, Dengan sengaja ia suguhi, Agar para bajingan datang, Menjamah tubuh yang merintih, Bajingan itu sungguh bengis, Merenggut nilai dengan nominal, Ia pun tak berdaya, Demi nominal menjadi binal, Bajingan tertawa lemas, Merasa puas bak binatang, Tanpa sadar tanpa tahu, Ia pun hina tak bernilai, Siapa pun bisa melihat, Kisah gemerlap tengah malam, Di sebuah gedung dan ruang, Berisi hasrat para bajingan.

Suatu Pagi Yang Kejam

Ilustrasi/Net Terbangun di pagi yang dingin, Tanpa membawa mimpi malam itu, Udara dingin melembab di sekujur tubuhku, Menampar kesadaran nurani dan hati, Apa gunanya membuka jendela, Hanya untuk menatap embun yang acuh, Apa gunanya membuka pintu, Hanya untuk merasakan kedinginan, Bahkan matahari enggan muncul, Seakan tak apa jika diri ini mati membeku, Dingin, terlalu dingin,  Menusuk ke setiap sela keinginanku, Pagi ini telah merenggut harap yang elok, Memusnahkan senyum yang hangat, Yang tersisa hanya debu-debu beku, Bersama rindu yang enggan berlalu.