Skip to main content

Posts

Memandang Wartawan Sebagai Profesi Yang Berkelas

Sumber Foto : NET Bagi wartawan yang mecintai pekerjaannya pasti menganggap kegiatan jurnalistik tersebut sebagai suatu profesi, bukan hanya sekedar cara untuk mencari uang atau keuntungan saja. Mengapa anggapan istilah profesi dan “hanya sekedar kegiatan mencari uang saja” itu berbeda ?? karena kalau hanya sekedar melaksanakan sebuah kegiatan mencari uang saja, siapa pun bisa melakukannya dengan ada atau tidaknya kompetensi yang dimiliki. Berbeda dengan sebuah profesi, yang dimana setiap orang yang menekuninya dituntut agar mempunyai keterampilan, wawasan dan kompetensi tertentu. Tentunya setiap profesi membutuhkan kompetensi yang berbeda-beda, contoh saja seperti dokter yang harus mempunyai beberapa kompetensi medis agar memberikan pelayanan atau jasa kuratif dan rehabilitatif yang baik. Bayangkan jika seorang dokter ternyata tidak memiliki kompetensi medis yang memumpuni dibiarkan untuk mengobati pasien, apa yang akan terjadi ?? bisa saja nyawa pasien menjadi korban, maka dari...

Ingat Aku !!!!

Tak bisa ku bayangkan jika aku harus kehilangan mu, Betapa tertusuk hatiku kehilangan sebagian nafasku, Dirimu bukanlah kekasih yang menempati relung hatiku, Tapi dirimu adalah arti dari sebuah persahabatan yang indah, Jika tidak ada dirimu yang selama ini memapah langkah rapuhku, Mungkin sudah lama raga ini terjatuh hingga melumpuh, Jika tidak ada dirimu yang memegang pundakku, Mungkin sudah lama aku hilang tertelan kelam, Namun apa daya raga dan jiwa yang hanya bermakna sahabat ini, Tidak mungkin melarang mu menggapai kebahagiaan yang hakiki, Ingin seka l i saja aku menjadi manusia egois lalu memenjarakan mu, Dan menjadikan dunia ini hanya tentang kita saja, kita berlima, Jika nanti waktu mu telah tiba, Jangan pernah menangis, Berbahagia lah demi kami, Kami ingin melihat mu tersenyum, Menari indah bersama romeo yang kau pilih, Mungkin sudah cukup aku menemani mu, Dari abu-abu hingga kau membiru, Lalu biarkan aku menjadi kenangan indah, Waktu diri...

Bajingan Egois

Sumber Foto : Net Aku adalah manusia egois, Apa pun itu asalkan menyenangkan ku, Apa pun itu asalkan demi diriku, Apa pun itu asalkan karena aku, Aku adalah manusia egois, Tidak peduli apa yang orang rasakan, Tidak peduli apa yang orang inginkan, Tidak peduli apa yang orang butuhkan, Aku adalah manusia egois, Apa pun itu hanya untuk ku, Kapan pun itu harus ada aku, Bagaimana pun itu harus dengan caraku, Aku adalah manusia egois, Tidak peduli orang lain, Tidak peduli apa yang terjadi, Tidak peduli apa-apa, Yang penting hanya lah aku, Yang penting adalah keinginanku, Semuanya tentang kehendak ku, Hanya diriku, saya dan daku.

Puisi Terindah

Sumber foto : NET Engkau, Adalah kata-kataku, Yang selalu terucap di setiap hembus nafasku, Engkau, Adalah bait-baitku, Yang terangkai indah di setiap detikku, Engkau, Adalah syair-syairku, Yang selalu menggoda ku untuk merindu, Engkau, Adalah puisi-puisiku, Yang selalu menjadi warna di setiap detakan jantungku, Engkau, Mengukir kalimat bahagia di secarik kertas kosong, Yang selama ini kotor tertutupi debu, Memang, Tidak ada kata sesering namamu, Tidak ada bait sekaya hatimu, Tidak ada syair sehangat hadirmu, Tidak ada puisi seindah dirimu.

Gerimis di Sore Itu

Sumber : NET Gerimis seringkali membawa kegelisahan, Datang bersama hujan memicu kegundahan, Mengguyur kembali luka yang pernah terasa, Dengan seketika mengunci tawa, Kali pertama dalam hidupku, Gerimis tak tampak kelabu, Kali ini ia datang melukis hariku, Menjadi warna merah muda dan biru, Dibawah dua pohon yang tak rimbun, Tampak matahari mulai tak benderang, Sayup-sayup mata mulai tertuntun, Terlelap dan terpikat rasa tenang, Bahkan dinginnya angin laut dibawah awan mendung, Sekejap hilang diterpa hangatnya detakan jantung, Betapa sungguh terasa beda terpukau kenyamanan, Kala menikmati gerimis di sore itu, Sayangnya rintik gerimis kini mulai mengusik, Dan petang pun mulai menghilang, Langit gelap mulai berbisik-bisik, Hingga waktu mengusir pulang.

Momentum Pragmatis Menuju Kabinet Pasca Pesta Demokrasi

Sumber : NET Pemungutan suara telah usai, tahapan Pemilu tahun 2019 sedang dalam proses pemuktahiran data suara dan menunggu hasil dari KPU untuk menyatakan secara resmi siapa yang akan menjadi orang nomor satu di Indonesia dalam kurun waktu lima tahun ke depan. Tentunya momentum ini akan dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh setiap partai dari masing-masing kubu apabila jagoan yang diusung menjadi pemenang. Mulai dari kursi menteri, jabatan-jabatan strategis hingga posisi-posisi pelengkap kabinet sekalipun tidak akan luput dari negosiasi dan lobi-lobi politis agar bisa diambil alih. Hal tersebut tentu merupakan hal yang wajar, mengingat selama berbulan-bulan panjang partai pengusung telah berjuang mati-matian agar jagoannya menang. Maka, sesuatu yang lumrah dalam politik apabila partai yang tergabung dalam tim kampanye ini meminta imbalan dan memanfaatkannya menjadi suatu momentum pragmatis. Hanya saja, yang berkemungkinan memanfaatkan momentum Pragmatis ini bukan hanya part...

Cinta Pertamaku

Sumber : Net Aku jatuh cinta, Pada suasana hangat, Berlumuran tawa ceria, Aku jatuh cinta, Pada elok santun kita, Ketika bersama menggenggam ilmu, Aku jatuh cinta, Pada jatuh bangun kita, Saat bersimbah darah bercucur keringat, Engkau jalanku, Menempuh tujuan, Menggapai angan, Engkau rumahku, Tempat mengasah akal, Merakit mental, Engkau bajuku, Citra diriku, Wujud dan rupaku, Engkau cinta pertamaku, Perisai biru kuning, Bertabur bintang-bintang.