Skip to main content

Posts

Tangan Kecil Tak Berdaya

Sumber : NET Air mata ini terus menetes, Jatuh mengalir membentuk luka, Tak sanggup ku bendung, Pedih teramat perih mencabik-cabik, Tak pernah kering air mata ini, Ketika melihat dirimu kesulitan, Pasrah akan kehidupanmu, Berjuang untuk bahagiamu, Maaf, maafkan diri ini, Hanya punya tangan kecil, Yang tak berdaya menarik deritamu, Tak berdaya mengulurkan senyum, Hanya bisa melihat dan menangis, Berharap dan menunggu, Berjuang dengan caraku, Untuk kebahagiaanmu nanti, Bertahanlah ibu, Doakan aku di setiap sujudmu.

Kisah Gemerlap Tengah Malam

Sumber : Net Mendayu-dayu tutur katanya, Melenggak-lenggok tubuhnya, Ia buka seluas mungkin, Hasrat tubuh menggiurkan, Mahkota itu ia pajang, Dengan sengaja ia suguhi, Agar para bajingan datang, Menjamah tubuh yang merintih, Bajingan itu sungguh bengis, Merenggut nilai dengan nominal, Ia pun tak berdaya, Demi nominal menjadi binal, Bajingan tertawa lemas, Merasa puas bak binatang, Tanpa sadar tanpa tahu, Ia pun hina tak bernilai, Siapa pun bisa melihat, Kisah gemerlap tengah malam, Di sebuah gedung dan ruang, Berisi hasrat para bajingan.

Suatu Pagi Yang Kejam

Ilustrasi/Net Terbangun di pagi yang dingin, Tanpa membawa mimpi malam itu, Udara dingin melembab di sekujur tubuhku, Menampar kesadaran nurani dan hati, Apa gunanya membuka jendela, Hanya untuk menatap embun yang acuh, Apa gunanya membuka pintu, Hanya untuk merasakan kedinginan, Bahkan matahari enggan muncul, Seakan tak apa jika diri ini mati membeku, Dingin, terlalu dingin,  Menusuk ke setiap sela keinginanku, Pagi ini telah merenggut harap yang elok, Memusnahkan senyum yang hangat, Yang tersisa hanya debu-debu beku, Bersama rindu yang enggan berlalu.

Si Peri Berpipi Bulat

Ilustrasi/NET Tak sengaja bertemu Peri, Bersayap cahaya penuh rahasia, Elok ku dekati, ucapkan sapa, Tanpa disadari tubuhku terbata-bata, Ku cermati lagi indah wajahnya, Berpipi bulat merah merekah, Tampak tak tinggi Si Peri ini, Namun ia lucu hingga ku terpaku, Beribu senyum terlempar oleh ku, Tanpa ku sadari telah ada yang hilang, Ku letakkan tangan diatas dada, Barulah terasa kalau hati ini telah ia sita, Si peri kabur tanpa meninggalkan nama, Tapi entah mengapa diri ini hanya diam saja, Ingin mengejar namun ragu, Mungkin ini masalah waktu, Tetap ku ingat wajah Si Peri, Begitu juga senyum serta pipinya, Kan ku dapat ia ku cari, Kan ku balas ku curi hatinya.

Memandang Sisi Negatif Perayaan Tahun Baru, Benarkah ??

Ilustrasi/NET Perayaan Tahun Baru memang sangat seru. Hanya pada saat momen-momen seperti tahun baru kita bisa melakukan pembakaran masal dan tidak dikenakan pidana. Yah, karena yang dibakar adalah makanan sepeti ayam, jagung dan ikan, bukan mantan, kalau yang dibakar mantan tentu saja akan dipidana, sebab meskipun tidak punya hati, mantan juga dikategorikan sebagai manusia/orang yang dilindungi oleh hukum. Fenomena perayaan tahun baru tentu mempunyai sisi positif dan negatif. Untuk kali ini Pencoret Kertas akan mencoba menggambarkan sisi negatif pada perayaan tahun baru yang beberapa tahun belakangan ini Author Pencoret Kertas merasa malas untuk merayakannya. Pencoret Kertas akan jelaskan secara subjektif alasan mengapa enggan merayakan malam tahun baru ini. Dulu Author Pencoret Kertas saat berada di usia remaja antara umur 15-18 tahun merupakan salah satu orang yang paling antusias saat menyambut tahun baru. Segala persiapan tahun baru bahkan sudah direncanakan tiga hari...

Skema Gerakan Buzzer, Politik Instan Era Digital

Sumber Foto : Net Perpolitikan di Indonesia secara bertahap telah memasuki era baru. Di zaman yang semakin canggih dan serba digital membuat skema gerakan politik mulai berubah. Kebebasan berpendapat juga kian meningkat, dibandingkan dengan zaman dulu, kritikan hanya bisa dilakukan oleh aktivis-aktivis yang nekat. Hanya saja, perubahan zaman selalu diiringi dengan kelebihan dan kekurangan. Kebebasan berpendapat yang diharapkan mempunyai manfaat yang diikuti dengan solusi, malah kebablasan menjadi ujaran-ujaran non empiris tak ber-etika. Sering kita lihat ujaran-ujaran yang bersifat propaganda dengan konten yang penuh akan unsur fitnah dan kebencian bermunculan. Padahal, sejatinya Bangsa Indonesia adalah bangsa yang bermoral, toleran, dan punya sikap tenggang rasa yang tinggi. Media sosial merupakan wadah digital paling vital dan marak ditemukan konten-konten ngaur seperti demikian, apa lagi di tahun politik seperti sekarang ini, banyak akun Buzzer yang menjadi subjek g...

Decitan Suara Hyena Di Musim Yang Panas

Ilustrasi (NET) Hyena adalah predator pemangsa yang licik dan pengecut. Jika merasa terancam, ia akan mengeluarkan suara berdecit yang akan memekakkan hewan lain untuk melindungi dirinya sendiri. Tidak jauh beda dengan decitan-decitan kosong tak berisi, yang sering terucap oleh bibir oknum-oknum politisi untuk menaikkan eksistensi ataupun menyerang lawan politiknya. Terkadang decitan itu digunakan untuk menyerang, tidak jarang juga digunakan untuk berkilah. Unik memang, tapi tidak langka. Oknum-oknum politisi terkadang memang terlihat layaknya hyena yang licik dan pengecut, jika punya luka dan mulai tersudutkan, ia akan berdecit tidak karuan, sambil bersembunyi dibalik semak belukar rekayasa dan pembungkaman. Namun jangan salah, oknum-oknum politisi ini juga predator , sama halnya dengan hyena. Ia siap memangsa rakyat awam dan polos untuk diperas , digrogoti lalu ditelantarkan layaknya bangkai . Oknum-oknum politisi yang seperti ini bisa kita sebut sebagai Politisi Hyen...